"Apa yang sedang terjadi? tadi kita masih dalam perjalanan..."
Direktur Kim, dengan setengah rambutnya yang acak-acakan, melihat sekeliling dan berdiri.
Aku mencoba mengingat kembali kejadiannya, berusaha mencari tau posisi kami saat ini.
'Hari pertama! Ini adalah hari pertama kami mendarat di dunia aneh ini!'
Aku ingat bagaimana kami bisa sampai di sini.
'Kami sedang berada di dalam mobil SUV, menuju acara workshop, lalu terjadi longsor... Kami tertimbun longsor... dan kemudian tiba-tiba ada kilatan...'
Ini adalah kenangan 50 tahun yang lalu, jadi sedikit kabur. Aku tak bisa mengingat dengan jelas.
"Hei, Wakil Manajer Seo."
'Sekarang aku telah ber-regresi... hidup seperti apa yang harus aku jalani...?'
"Wakil Manajer Seo."
'Biasanya, dalam novel regresi, orang-orang hidup dengan nyaman menggunakan pengetahuan masa depan mereka. Tapi yang aku tahu tentang masa depan hanya hal-hal sepele seperti anak Pak Ju lahir 30 tahun kemudian...'
"Seo Eun-hyun, Wakil Manajer!!!"
"Ah, Kepala Bagian Jeon. Maaf, aku agak terkejut."
Aku tersentak dari lamunanku saat Kepala Bagian Jeon Myeong-hoon berteriak.
Wakil Manajer.
Itu adalah gelar yang sudah lama tidak kudengar. Aku tak bisa menahan keterkejutan. Lalu, aku melihat wajah yang sudah lama tak kulihat.
Kepala Bagian Jeon Myeong-hoon.
Jeon Myeong-hoon.
Keponakan dari Direktur Eksekutif perusahaan tempatku bekerja, SJD Company.
Dia berusia 32 tahun, tiga tahun lebih tua dariku, tapi sudah meraih posisi kepala bagian melalui nepotisme.
'Aku ingat kalau 50 tahun yang lalu aku tidak begitu menyukai dirinya...'
Namun, memikirkannya sebagai wajah yang belum kulihat selama 50 tahun, aku sebenarnya cukup senang melihatnya.
Lagipula, bukankah dia juga orang yang berasal dari tempat asalku yang baru bisa aku lihat setelah 50 tahun lamanya?
Aku rasa, mungkin ini saatnya untuk menjadi akur dengannya
plak!!
Tiba-tiba, Kepala Bagian Jeon menampar wajahku. "Wakil Manajer Seo! Dasar bajingan, tak bisakah kau mengemudi dengan benar?!"
"Ah..."
Setelah ditampar, Aku berdiri di sana tercengang, dan segera menghapus pikiranku yang menganggapnya sebagai orang yang berasal dari tempat yang sama.
Aku sudah lupa.
Orang ini memang bajingan.
"Dasar bajingan, karena kau kita jadi terdampar ditempat ini! Bajingan sialan...!"
Disaat Jeon Myeong-hoon ingin menyerangku dengan penuh amarahnya, Ketua Oh bangkit dan menghentikannya.
"Sudah cukup. Longsor itu bukanlah sesuatu yang bisa dihindari oleh Wakil Manajer Seo."
Aku kembali mengingat kejadian yang terjadi 50 tahun yang lalu.
Ya, aku memang ditugaskan untuk mengemudikan mobil SUV perusahaan.
"Apakah kau tidak merasa kesal, Ketua? Karena bajingan Wakil Manajer Seo ini, kita terjebak dalam bencana ini! Ada di mana kita sekarang, dan ke mana perginya mobil SUV kita! Kita terjebak di sini karena orang ini!"
Kemudian, aku ingat.
Aku memang tertidur saat mengemudi.
'Tapi, alasan aku tertidur adalah...'
Jeon Myeong-hoon.
Orang itu menyerahkan pekerjaannya yang tertunda kepadaku sehari sebelum workshop, memaksaku begadang semalaman.
"Kalau kau ingin tidur, seharusnya kau menyerahkan kemudinya ke orang lain! Kekacauan macam apa ini?"
Kalau dipikir lagi,
'Bukankah Jeon Myeong-hoon seharusnya yang menyetir?'
Benar. Awalnya, Jeon Myeong-hoon yang seharusnya mengemudi. Tapi dia, ingin mendekati pegawai wanita di kursi belakang, lalu secara paksa menempatkanku di kursi supir.
"Bajingan bodoh ini! Kita terdampar karenanya!"
Ah.
Kenangan dari 50 tahun yang lalu datang kembali dengan jelas.
Saat itu, aku sangat bingung dan tidak mengerti apa yang terjadi.
Jadi, tanpa sadar, aku meminta maaf kepada Jeon Myeong-hoon.
Aku bahkan berpikir itu salahku.
Namun mengingat kenangan dari 50 tahun yang lalu...
'Apakah Jeon Myeong-hoon pernah merasakan sesuatu seperti perasaan bersalah atau rasa malu?'
Aku sudah beberapa kali meminta Jeon Myeong-hoon dan pegawai wanita untuk mengambil alih kemudi sebentar.
Namun Jeon Myeong-hoon, yang menolak mengemudi, juga mencegah pegawai wanita lain untuk mengemudi, meskipun dia tahu kalau aku sangat ngantuk karena bekerja semalaman.
Sebagai Wakil Manajer, aku tak bisa meminta Ketua dan direktur untuk mengemudi.
Aku harus mengemudi selama empat jam tanpa istirahat meskipun sedang kelelahan.
Jadi...
"Kepala Bagian Jeon... Ada sesuatu yang harus aku katakan."
"Lihat ini, bertingkah sok hebat. Ya, kita terjebak karena Wakil Manajer Seo, jika kau punya hati nurani, sudah seharusnya kau meminta maaf..."
"Aku memang sebelumnya sangat mengantuk, Tapi seingatku, aku mengemudi dengan benar sampai akhir, bahkan bolak-balik menahan rasa kantukku dengan kopi. Ketika longsor terjadi, aku mencoba menghindarinya. Tapi itu terlalu besar untuk dihindari, dan mobil kita jadi ikut terseret."
Aku sudah mencoba berhenti dan mundur ketika melihat tanah longsor di depan kita.
Tapi sisi gunung di sebelah kita hampir runtuh sepenuhnya. Itu adalah bencana yang tidak bisa kuhindari tak peduli seberapa keras aku mencoba.
"Kepala Bagian Jeon, aku mengerti kau sedang marah, tapi sepertinya ini bukan saatnya untuk menyalahkan seseorang."
"Bajingan ini... mencoba menceramahiku!? Kau bahkan tidak menyadari apa kesalahanmu..."
"hadeh..."
Aku menarik napas dalam-dalam.
Dalam kehidupan di mana aku tidak tahu apapun tentang regresi.
Selama 50 tahun, aku belajar bagaimana bertahan hidup dengan penuh kerja keras.
Belajar untuk bertahan ketika bandit-bandit kuat menginjak-injakku dan mengambil uangku.
Belajar untuk bertahan ketika ahli bela diri yang kejam menghinaku.
Belajar untuk bertahan ketika pejabat setempat mengambil segala yang kupunya, bahkan yang tidak kupunya, hanya untuk memungut pajak.
Ya.
Di hadapan mereka yang tak bisa kutangani, aku biasanya hanya bisa menahan emosiku.
Namun.
"Hei."
"Huh, Hei? bilang apa kau? Seo Eun-hyun, bajingan sialan, apalagi yang ingin kau katakan sekarang?"
Membungkuk di hadapan mereka yang bisa kutangani..
Itu bukanlah sesuatu yang dilakukan oleh seorang pria. Aku juga mempelajari hal itu.
"sudah kubilang kalau itu bukan salahku. sudah cukup!"
"Ketua, lepaskan aku. bajingan ini sudah keterlaluan..."
Thud!
Jeon Myeong-hoon maju kearahku dan ingin memukul wajahku.
Namun disaat dia menyerangku, aku maju dan menyundulnya dengan kepalaku.
Boom!
"Aaah...!"
Di kehidupanku yang sebelumnya.
Berapa kali aku dipukuli oleh para seniman bela diri?
Berapa kali aku dipukuli saat sedang mengumpulkan herbal di gunung dan bertemu para bandit?
Berapa kali aku dipukuli ketika sekelompok perampok menyerbuku saat kelaparan?
Dipukuli, dipukuli, dan dipukuli lagi.
Selama kejadian keras yang tak terhitung jumlahnya itu, aku mempelajari sesuatu yang tidak diketahui oleh Jeon Myeong-hoon dan lainnya.
Kekerasan.
Boom!
Thump!
Boom!
Begitu sundulan pertama mengenainya, aku maju dan terus menghantam Jeon Myeong-hoon tanpa ampun.
"Ugh, tunggu, tunggu...!"
"Kau. Bajingan. Aku. Bilang. Bukan. Aku."
Ketika sedang memukul seseorang.
Ketika kau memukul wajah seseorang, orang yang dipukul biasanya langsung merasakan ketakutan yang luar biasa.
Penglihatan yang terhalang oleh kepalan tangan, dan rasa sakit yang mengikuti setelahnya.
Ketakutan dari penyerang yang tidak kenal ampun.
Aku memukul sekitar mata Jeon Myeong-hoon untuk mengaburkan penglihatannya.
'Kalau kau tidak tahu apa kesalahanmu, setidaknya tutup mulutmu!'
Dengan setiap pukulan yang mendarat, dendam yang kumiliki terhadap Jeon Myeong-hoon tampaknya mulai menghilang secara perlahan.
Meskipun 50 tahun telah berlalu, intimidasi kejam Jeon Myeong-hoon terhadapku di perusahaan masih tak terlupakan.
“Aku, aku mengaku salah…”
“haizz…”
Saat permintaan maaf keluar dari mulut Jeon Myeong-hoon yang sombong itu, aku langsung berhenti memukulnya dan mulai melihat sekeliling.
Direktur Kim, Kepala Oh, Wakil Manajer Kang, Wakil Manajer Oh, Manajer Kim...
Semua melihatku dengan mata yang ketakutan.
Di antara mereka, Direktur Kim berbicara kepadaku dengan suara gemetar.
''Wakil Manajer Seo, bagaimanapun juga, memukul rekan kerja hingga seperti itu...''
''Ya, Direktur benar. Aku minta maaf. Aku terlalu terbawa suasana. Aku minta maaf telah membuat semua orang terkejut. Bagaimanapun juga, memang aku yang mengemudi, jadi aku minta maaf karena tidak bisa berbuat lebih baik saat tanah longsor itu terjadi.''
Aku membungkuk dengan sopan kearah Direktur Kim dan karyawan lainnya sambil meminta maaf.
Sebenarnya, selain Direktur Kim, aku tidak akan bertemu dengan mereka lagi.
Hanya Direktur Kim saja,
'Direktur Kim, jika kau mempelajari seni bela diri, kau pasti akan mencapai puncak dunia.'
Tentu saja, maksudku hanya di dunia seni bela diri.
Meskipun aku sudah kembali ke masa lalu, aku tetap menyerah pada ide untuk bergabung dengan sebuah sekte kultivasi.
'Apanya yang sekte kultivasi? Aku tidak akan punya kemampuan untuk hal semacam itu.'
Kemampuan yang dikenal sebagai akar spiritual atau kekuatan spiritual.
Tanpa hal itu, mustahil untuk mempelajari metode milik para kultivator abadi atau bahkan merasakan energi spiritual yang mereka latih.
Jika ada sesuatu yang aku harapkan dalam kehidupan ini.
Hanya...
'Aku hanya berharap bisa mendapatkan sedikit lebih banyak kesempatan untuk bekerja lebih keras di kehidupan ini.'
Di kehidupan yang sebelumnya, setelah Direktur Kim mempelajari seni bela diri dan pergi berkelana.
Dia sesekali datang untuk minum denganku.
Namun kegiatan itu juga berhenti sepenuhnya setelah dia mencapai puncak kemampuannya.
Namun, kehidupan ini berbeda.
'Kalau aku mendukung Direktur Kim secara aktif, mungkin ada beberapa keuntungan yang akan jatuh menimpaku.'
Untuk melakukannya, aku perlu berbuat baik kepadanya mulai dari sekarang.
"Benar, semuanya juga sedang berada dalam situasi yang membingungkan, dan Kepala Bagian Jeon terlalu berlebihan. Tentu saja, Wakil Manajer Seo juga meresponnya dengan terlalu kasar. Cepatlah minta maaf."
"Ya, Direktur benar."
Setelah membungkuk lagi kearah Direktur Kim, aku membantu Kepala Bagian Jeon untuk berdiri sambil berkata,
"Maaf, Kepala Bagian Jeon. Aku terlalu berlebihan. Aku benar-benar minta maaf."
"Kau... dasar sialan..."
Saat aku mulai merendah lagi, Jeon Myeong-hoon, yang tampaknya sudah sadar kembali, langsung menatapku tajam.
Namun, saat mataku berbalik menatapnya, dia akhirnya menghindari tatapanku dan menutup mulutnya.
"Lupakan saja, tampaknya kita sekarang berada di sebuah hutan, bagaimana jika kita berjalan keluar dan mencari desa terdekat?"
Direktur Kim melihat sekeliling dan mengusulkan idenya.
Langit berwarna merah tua, tampak seperti matahari akan segera terbenam, dan anginnya menjadi semakin dingin.
Secara logis, kata-kata Direktur Kim memang masuk akal.
Namun, di tempat ini, pemikiran seperti itu harus dibuang.
'Di sebuah dunia di mana para kultivator menjadi makhluk abadi yang bisa berterbangan dengan bebas, dan para seniman bela diri yang bertarung demi kekayaan dan kehormatan.'
Seperti itulah dunia ini.
Dan, hutan yang kami tempat saat ini...
Aku mengingat kenangan dari 50 tahun yang lalu dan memikirkan nama hutan itu.
'Jalur Kenaikan (Naik Menuju Keabadian).' // Ascension Path
Disebut sebagai tempat terbaik untuk para makhluk iblis dan kultivator untuk mencapai keabadian.
Tempat di mana energi spiritual langit dan bumi berkumpul paling banyak.
Tidak ada desa, kota, atau negara di dekat Jalur Kenaikan.
Oleh karena itu, apa yang coba dilakukan oleh Direktur Kim menjadi tak bermakna.
Yang lebih penting sekarang adalah,
'Langit sudah mulai gelap. kami perlu membuat api.'
Aku memikirkan situasinya lalu berbicara kepada Direktur Kim,
"Direktur, apakah kau mendapat sinyal?"
"Hmm... Tampaknya sinyalnya mati."
"Jika sinyalnya hilang, maka orang lain akan lebih sulit untuk menemukan dan menyelamatkan kita. Karena hari semakin gelap, daripada mencari desa yang kita tidak ketahui lokasinya, mungkin lebih baik bersiap untuk bermalam di sini"
Mendengar kata-kataku, Kepala Bagian Jeon, yang diam, menolak dengan lembut,
"Apa yang kau bicarakan... Wakil Manajer Seo. Justru sebaliknya, akan lebih berbahaya jika bermalam disini, kita perlu mencari desa terdekat..."
"Hmm, menurutku, akan lebih berbahaya jika kita bergerak sembarangan. Bagaimana kalau begini saja?"
Aku menunjuk ke pohon tinggi di dekatnya.
"bagaimana kalau mencoba menaiki pohon itu dan melihat apakah ada desa atau mungkin jalan di disekitar sini? Jika tidak ada apa-apa, bagaimana kalau mengikuti saranku yang sebelumnya?"
"Naik pohon itu? Siapa yang mau memanjatnya...? Kau, apa kau mau melakukannya Wakil Manajer Seo?"
"yahhh, kalau tidak ada yang tahu cara memanjat pohon, maka aku yang akan melakukannya."
Aku mengangguk begitu saja dan meraih batang pohon tertinggi di dekatnya, perlahan memanjat pohon itu.
Aku pernah bertemu babi hutan saat memetik herbal di pegunungan.
Saat itu, aku memanjat pohon terdekat demi menghindari situasi hidup dan mati.
Orang modern biasanya tidak akan pernah memanjat pohon, tetapi setelah menjumpai berbagai kesulitan dalam hidupku yang sebelumnya, aku jadi bisa dengan mudah memanjat ke puncak pohon yang besar itu.
"Apa kau melihat sesuatu dari sana? Wakil Manajer Seo!"
Dari bawah, Direktur Kim berteriak.
Seperti yang diduga, disekitar sini hanya ada hutan yang tak berujung.
Tidak ada jalan besar atau desa, apalagi jejak manusia.
'Sebaliknya, mungkin ada monster dan iblis yang berkeliaran di antara pohon-pohon itu.'
Daripada berteriak dari atas pohon, aku pura-pura melihat sekeliling sebentar dan kemudian turun kembali.
"Ha, Wakil Manajer Seo. Kau benar-benar pandai memanjat pohon. Pohon itu tingginya sekitar 11 meter."
"Ngomong-ngomong, pohon apa ini? Tampaknya agak asing, seperti bukan dari daerah ini."
Direktur Kim menepuk pundakku, dan Manajer Oh melihat pohon yang telah kupanjat dengan penasaran.
Aku membersihkan tanganku dan memberi tahu mereka apa yang kulihat.
"Tidak ada jalan besar atau desa di dekat sini."
"Hah, aneh sekali. Sekalipun kita terseret oleh tanah longsor, harusnya masih ada jalan raya di dekat sini..."
Direktur Kim mengelus dagunya seolah itu aneh, dan Kepala Bagian Jeon menatapku dengan curiga.
"Wakil Manajer Seo... Apakah kau sudah melihatnya dengan benar? bagaimana kalau ternyata kau sengaja bilang seperti itu...?
"Untuk apa aku berbohong tentang hal ini? Aku lebih suka tidur di rumah daripada berkemah di hutan. Jika kau tidak percaya padaku, Kepala Bagian Jeon, kau bisa naik dan melihatnya sendiri."
Kepala Bagian Jeon mundur dengan wajah yang agak masam.
"Menurutku, meski kita ingin menjelajahi daerah sekitar, kita harus terlebih dahulu mendirikan tempat berlindung dan membuat api, karena hari sudah semakin gelap."
Direktur Kim bertepuk tangan dan berkata.
"Masuk akal. kalau begitu... oh, kita harus mencari mobil SUV kita juga. Kita terseret oleh tanah longsor dari di dalam mobil, secara logika, mobil kita harusnya juga berada didekat sini."
Tapi...
'Akal sehat tidak akan bisa diterapkan ditempat seperti ini...'
Mobil SUV kita sudah menghilang.
Tidak akan ada di mana-mana.
"Bagaimana kalau mencari mobilnya dulu dan tidur di dalamnya? Masih ada banyak persediaan di mobil karena sebelumnya kita hendak pergi ke workshop perusahaan..."
Kegiatan workshop itu malah lebih seperti sebuah piknik.
Jadi, ada banyak alat kemping dan makanan yang dimuat di Mobil SUVnya.
Namun, mobil itu sudah menghilang.
'Tentu saja, aku mengetahuinya karena aku sudah kembali ke masa lalu, tapi mereka tidak akan percaya padaku jika aku bilang mobilnya sudah menghilang.'
Daripada menguras energiku mencoba meyakinkan mereka, lebih baik membiarkan mereka mencarinya.
"Kalau begitu ayo kita bagi menjadi dua tim. Satu tim akan mencari tempat untuk menginap, dan tim lain akan mencari mobil. Kita harus berkumpul lagi di sini sebelum matahari benar-benar terbenam."
Aku menyarankan hal tersebut.
Aku, Wakil Manajer Oh, dan Manajer Kim berada di tim yang bertugas untuk mencari tempat singgah.
Direktur Kim, Kepala Bagian Jeon, Kepala Oh, dan Wakil Manajer Kang bertugas untuk mencari mobilnya.
Kami berpisah dan melihat-lihat sekitar.
"Um, Wakil Manajer Seo. Kau bilang kita harus mencari tempat untuk singgah, tapi bagaimana biasanya kau menemukan tempat seperti itu di hutan seperti ini?"
Wakil Manajer Oh bertanya dengan hati-hati.
Dia tampak sedikit canggung karena melihatku menghajar Jeon Myeong-hoon.
"Tidur di pegunungan atau hutan itu berbahaya. Hewan liar dan binatang buas bisa menyerang, dan jika menyalakan api sembarangan, bisa menyebabkan kebakaran hutan. Yang terbaik mungkin gua kecil. Ah, contohnya seperti tempat yang disana itu."
"Oh, gua?"
"Kau langsung menemukannya? beruntung sekali!"
Tentu saja, gua yang kutunjukkan kepada mereka adalah tempat yang pernah ku kunjungi 50 tahun yang lalu.
'Di kehidupan sebelumnya, itu adalah tempat perlindungan yang hampir kutemukan setelah berkelana selama berjam-jam lamanya.'
Bagi Wakil Manajer Oh dan Manajer Kim, hal ini tampak seperti sebuah keberuntungan, tetapi sebenarnya, ini bukanlah sebuah kebetulan melainkan hal yang tak terhindarkan.
Bahkan di kehidupan sebelumnya, itu juga menjadi tempat yang sempurna untuk ditinggali tanpa perlu mengkhawatirkan bahaya didalamnya.
Aku melihat gua itu dan mengumpulkan ranting dan daun-daunan dari sekitar.
"Wow... Pak Seo, kau benar-benar terampil."
"Apakah kau pernah ikut sesuatu seperti Pramuka?"
"Ah, yah... semacam itu."
Meskipun itu bukan Pramuka, melainkan pengalaman 50 tahun secara nyata.
"Kita bisa menyalakan api nanti dengan pemantik milik Direktur Kim. Sebaiknya kita mengumpulkan kayu bakarnya dulu."
"yaampun, rasanya seperti ketika aku sedang pergi camping di waktu kecil."
"Benar, kau benar. aku juga merasa seperti itu."
Kedua karyawan perempuan itu mengobrol dengan gembira saat mereka bergabung denganku mengumpulkan ranting kering dan dahan untuk kayu bakar.
Kemudian, saat matahari mulai terbenam,
"Sekarang, kita harus kembali ke tempat terbuka yang kita kunjungi tadi. Yang lain juga akan berkumpul di sana."
"Baik~"
"okey~"
Aku kembali ke tempat terbuka dengan dua karyawan perempuan itu.
Tak lama kemudian, kami bertemu kembali dengan Direktur Kim, Kepala Oh, Kepala Bagian Jeon, dan Wakil Manajer Kang.
"Apakah kalian menemukan mobilnya?"
"..."
Direktur Kim menggelengkan kepala dengan ekspresi yang murung.
Kepala Oh dan Kepala Bagian Jeon juga menunjukkan wajah khawatir.
Wakil Manajer Kang Min-hee ikut berbicara dengan wajah tegang.
"Tidak ada tanda-tanda mobil itu di mana-mana. Kami sudah berkeliling mencarinya, tetapi itu seperti menghilang begitu saja. Secara logis, jika mobil terseret oleh tanah longsor, mengapa kita bisa terpental dari mobilnya dan kemana hilangnya mobil itu?"
Dia melihat sekeliling dengan ekspresi khawatir, seolah-olah hutan itu sendiri terasa menakutkan.
"Tidak ada yang bisa kita lakukan sekarang. Kami sudah menemukan tempat untuk bermalam, ayo bermalam di sana dulu. Kita akan melanjutkan pencariannya besok."
"baiklah."
Enam dari mereka mengikutiku ke gua dengan wajah suram.
"Astaga, apa ini?"
"Tuan Seo yang membuatnya."
"Huh, Seo Eun-hyun benar-benar pandai. Apakah dia pernah hidup di alam liar atau semacamnya?"
Wakil Manajer Kang Min-hee terkejut dengan penahan angin dan pintu gua yang kubuat.
Kepala Oh Hyun-seok diam-diam menyatakan kekagumannya sambil memujiku.
Direktur Kim juga mengangguk dengan puas, dan Jeon Myung-hoon...
Dia tampak tidak puas tetapi terlalu lelah untuk mengatakan apa-apa.
"Direktur, tolong pemantiknya."
"Oh, iya."
Direktur Kim mengeluarkan pemantik dari sakunya dan menyalakan ranting kering yang sudah ku kumpulkan.
Kami duduk mengelilingi api di dalam gua.
Asapnya dengan sempurna keluar melalui lubang yang sudah ku buat di penahan angin.
"Ha... situasi macam apa ini."
"Rasanya sungguh tidak masuk akal..."
"..."
Semua duduk dengan ekspresiyang muram, tampaknya sangat khawatir.
grwlll
Suaranya berasal dari perut Manajer Kim Yeon. Wajahnya memerah karena malu.
"Oh, ini..."
"Haha, tidak apa-apa. Kita semua sudah melewatkan makan malam..."
Aku tersenyum dan mengeluarkan beri yang telah kupetik saat mengumpulkan ranting.
"Semua pasti lapar. Cobalah ini. Aku memetiknya tadi."
"Apakah ini aman untuk dimakan? Ini tidak beracun, kan?"
Jeon Myung-hoon, yang ketegangannya berkurang, bertanya padaku dengan santai.
Aku tersenyum dan memakan salah satu buah-nya.
"Aku belajar tentang herbal saat aku masih muda. Aku tahu mana yang aman untuk dimakan dan mana yang tidak."
Meskipun mengatakan 'saat aku masih muda' agak berlebihan, tapi aku memang mempelajarinya di masa lalu.
Melihatku makan beri itu tanpa ragu-ragu, Kim Yeon juga mencobanya dengan hati-hati.
"Wah, ini rasanya seperti kacang kastanye mentah."
"Rasanya renyah, kan? Aku memetik banyak, jadi semua bisa memakannya."
Melihat ini, Direktur Kim dan Wakil Manajer Oh mulai memakan beri yang sudah kupetik. Wakil Manajer Kang dan Kepala Oh juga dengan senang hati memakannya.
Hanya Jeon Myung-hoon yang melihatnya dengan tatapan yang tidak senang dan berbaring duluan, berkata kalau dia sudah lelah.
"Haha, ini situasi yang cukup serius, tetapi berkat Wakil Manajer Seo, kita masih bisa bersenang-senang."
"Aku tau dari orang-orang kantor tentang betapa rajinnya dia. Aku dengar dia lelah mengemudi karena bekerja shift malam sebelumnya."
"Wakil manajer benar-benar rajin~"
"Ah, berkat Wakil Manajer Seo, rasanya seperti berkemah."
"Memang."
Kami semua menghabiskan malam dengan suasana yang ceria.
Aku juga tertawa lebar, berbincang dengan rekan-rekanku.
Ini adalah malam yang cocok untuk tertawa riang, karena mungkin ini juga akan menjadi malam terakhir bagi kami untuk berkumpul bersama.
Keesokan paginya,
Begitu aku mencium udara pagi, aku bangun lebih awal dari yang lainnya.
Kenangan dari 50 tahun yang lalu mulai kembali dengan jelas.
'Hari pertama, setelah berkelana di hutan sepanjang malam, kami nyaris tidak menemukan gua dan pingsan karna kelelahan. Keesokan paginya, dia datang.'
Meskipun 50 tahun telah berlalu, ketakutan, kejutan, dan rasa sakit dari waktu itu masih sangat tergambar jelas.
Aku membuka penahan angin di luar gua dan mulai pergi keluar.
Hanya beberapa saat sebelum fajar.
Aku berkeliaran di sekitar, mengumpulkan herbal yang baik untuk menghentikan rasa sakit dan pendarahan.
Herbalnya dalam kondisi luar biasa, berkat hutan yang penuh dengan energi spiritual langit dan bumi.
Ini lebih seperti obat-obatan spiritual ketimbang herbal biasa.
Dan setelah beberapa saat, pemilik wilayah ini tiba.
Dengan sebuah lompatan!
Seekor makhluk sebesar rumah.
Dengan tiga ekor dan mata yang menyala dengan api biru, dia adalah rubah berbulu putih.
aku gemetar ketakutan....
Tekanan yang dipancarkan dari sang pemilik hutan, dan kejadian dari 50 tahun yang lalu, membuat tubuhku gemetar ketakutan.
Namun, memiliki 'pengalaman masa depan' adalah keuntungan besar tersendiri.
"Mem-Memberi hormat pada...pemilik hutan."
Aku tergagap, menggigit bibirku yang gemetar, dan perlahan membungkuk kearah rubah itu.
Sekali, dua kali, tiga kali.
Ini adalah penghormatan 3 kali yang diperlukan jika bertemu dengan pemilik hutan.
Rubah yang sebesar rumah dua lantai itu menatapku dengan mata api biru sambil berbicara.
[Seorang manusia dengan aroma yang unik. Selama ribuan tahun, aku belum pernah bertemu manusia dengan aroma seperti itu.]
"..."
Klik, klak, klik...
Aku gemetar sambil memikirkan apa yang akan dilakukan oleh rubah monster ini.
Kemudian terjadilah hal yang kubayangkan
Kehadiran rubah itu membangunkan yang lain.
Direktur Kim, Kepala Oh, Wakil Manajer Kang, Kepala Bagian Jeon, Manajer Kim, dan Wakil Manajer Oh keluar satu persatu dari gua yang sebelumnya.
Hal yang terjadi selanjutnya adalah hal yang tak terelakkan.
"Aaahhh!"
"Monster!"
"Itu monster!"
Pada saat itu, rubah monster itu menggerakan matanya yang besar dengan rasa tidak senang.
[Kalian para manusia tampaknya selalu memiliki kecerdasan yang menyedihkan dan selalu tidak sopan. Biasanya, aku selalu merobek satu anggota tubuh dari masing-masing kalian...]
Gemetar...
[Tapi karena salah satu dari kalian tau bagaimana cara menghormati pemilik hutan, maka aku akan memaafkan kalian.]
Mata rubah monster itu tertuju padaku, yang telah berlutut dan membungkuk dengan hormat.
"Semuanya! Tunjukkan rasa hormat kalian kepada pemilik hutan! Jangan hanya berdiri di sana, cepat berlutut!!"
Saat aku berteriak, yang lainnya berdiri dengan linglung dan kemudian berlutut dengan canggung sepertiku.
Mata rubah itu bertemu dengan mataku.
[Seorang manusia yang tahu bagaimana caranya memberi penghormatan. Aku tidak akan menghukum kalian begitu saja, tetapi... aroma kalian terlalu unik...]
Menetes, menetes...
Dari sudut mulut rubah itu, cairan lengket mengalir.
Air liurnya!.
[Salah satu anggota tubuh milik kalian. Biarkan aku mencicipi satu saja. Kemudian aku akan mengizinkan kalian tinggal di wilayahku untuk sementara waktu.]
Komentar